Untuk kesekian kalinya, ada teman curhat sekaligus konsul pada saya,kadang di malam hari. Entah lewat inbox fesbuk, chatting atau sms. Topik mereka sama : ingin resign kerja dan jadi ibu rumah tangga (saja) seperti saya ini.

Jika itu kenalan baru, biasanya awal disertai pujian dulu pada saya,yang mereka kira sebagai ibu rumah tangga yang sukses berbisnis sekaligus sukses ngurus keluarga.Baru kemudian mereka bertanya ini itu.

Yang biasanya mereka tanyakan, gimana caranya jadi ibu rumah tangga sambil bisnis, gimana mulainya, dan tentang kegalauan mereka mau resign apa nggak.

Menghadapi pertanyaan ini, saya sering geli aja sendiri. Pertama, saya heran juga kok bisa dibilang jadi IRT yang sukses bisnis. Saya amin-kan saja kalimat pujian itu. Kedua, saya bingung jika ditanya gimana caranya jadi IRT sambil bisnis ; karena saya gak pake mikir panjang pas mau jualan. Bondo nekad aja. Maka untuk menjawab hal ini,saya seringnya berbagi cerita saja,gimana saya memulai sebuah toko jilbab online.

Nah, untuk pertanyaan yang terakhir,jawaban saya gak pakai ragu. Dan cenderung tegas. Ketika mereka - para istri itu bertanya, mereka perlu resign apa ga ya? Langsung saya jawab "RESIGN saja ! Cari duit di rumah saja !"

Sering penanya jadi kaget dengan "kekakuan" saya ini. Nggak nyangka saya seenak udelnya aja nyuruh mereka berhenti dan tidak mempunyai gaji tetap lagi. Kayak yang saya nggak butuh duit aja.

Saya juga merasa sih, jangan-jangan para penanya ini sekedar uji coba perasaannya aja, nggak beneran ingin resign. Karena walau semanis apapun uraian tentang utamanya para istri dan ibu beraktivitas berbasis rumah, mereka tetep ragu-ragu melepas pekerjaan kantorannya.

Jika sudah begitu ngotot memberikan alasan kenapa dia harus tetap kerja, maka dengan cepat saya putus percakapan saya itu. Salah alamat saja sepertinya. Padahal nggak seharusnya saya begitu (saya pun sadar).

Tapi ya gimana, saya bilang saja : saya sekedar berbagi crita dan memberitahukan prinsip saya. Bahwa saya ini idealis, nekad dan berani melarat. Anak adalah alasan utama saya resign kerja. Memang kemarin-kemarin saya juga ragu mengambil keputusan. Karena ego saya ingin mandiri finansial lebih besar. Namun belakangan,ketika makin pasrah dan tulus menjadi IRT, toh rejeki lewat suami diberikan lebih mudah oleh اللّهُ SWT. Dan dengan pengalaman ini,maka saya tanpa tedeng aling-aling mengatakan pada mereka yang bertanya itu dengan satu jawaban tegas. Jika kondisi menitipkan anak, dll tidak memungkinkan, maka RESIGN saja semoga lebih baik.

Semoga.. Semoga, saya harap begitu. Dan alhamdulillah juga, ada seorang teman baru juga yang dulu kerja di laboratorium negara,lalu hamil dan takut kehilangan anaknya lagi,sharing kepada saya. Dan saya yakinkan untuk berani memulai bisnis jika memilih resign. Dan sekarang dia sudah punya bisnis handycraft yang gejalanya makin laris.

Tentu, pendapat saya ini tidak mutlak benar dan bisa berlaku untuk semua orang. Namun saya ingin membagi prinsip nekad saya kepada mereka yang cemas kekurangan rejeki jika resign kerja.

Langit menyimpan banyak rahasia, termasuk rejeki kita. Kenapa dengan yakinnya kita hanya menganggap rejeki cuma dari kantor kita saja? Dan tetap bertahan disana dengan resiko anak-anak dan keluarga kacau atau tidak optimal?

Saya ingat kalimat bahwa Anak Shalih termasuk salah satu modal kita bisa nyangkut ke surga. Maka, bismillah dengan prinsip itu saya tak ragu lagi menjadi IRT - stay at home mom- dan fokus pada anak-anak.
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!