Sekali lagi, ada berita seorang suami yang mendadak pergi untuk selama-lamanya. Kali ini adalah seorang ulama muda Uje, yang berita kepergiannya membuat haru pagi ini.

Beberapa bulan yang lalu, berita ini juga ada. Satu dari tetanggaku sendiri. Dua dari teman handycraft. Keduanya mempunyai cerita yang mirip. Suami mereka mendadak jatuh pingsan, lalu meninggal. Konon karena serangan jantung.

Setiap ada berita seperti ini, hatiku berdegup sangat kencang. Rasanya seperti maut begitu dekat. Padahal rencana untuk bertahan hidup atau maju demi masa depan, masih dirancang dan belum dilaksanakan semuanya. Sepertinya rencana itu akan sia-sia saja.

Jam pasir seperti berhenti meluruhkan isinya. Membuat alam semesta harus duduk sejenak, merenungkan apa yang sebenarnya harus dilakukan dalam hidup ini.

Apa sebenarnya tujuan aku diciptakan?

Tapi, jika benar akhirnya aku juga akan tiada, apakah benar jika aku harus diam saja dan menjalani  hidup segitu-gitunya saja?

Aku merenung dan merenung. Ingin maju apakah salah?
Ingin lebih baik dari hari ini, apakah tanda bahwa kita kurang mensyukuri apa yang sudah diberikan oleh Yang Maha Kuasa, di hari ini?

Jika aku, sudah menikah, sudah punya anak, sudah mandiri dari orang tua, lalu ingin maju setapak lagi ke depan. Ingin melanjutkan studi, ingin membina sebuah karir agar bisa mandiri, bisa bermanfaat dan bisa menjadikan hal itu tambahan nilai ibadah; apakah aku berlebihan??

Perasaanku biasanya tarik ulur jika mendengar berita kematian. Dan mungkin memang itulah tabiat manusia. Dan memang seperti itulah harusnya perasaan manusia menghadapi hidupnya. Menjalani hidupnya dan mempersiapkan kematiannya.

Menulis hal ini begitu mudah. Padahal dalam kehidupan sehari-hari, begitu banyak upaya untuk dapat bertahan hidup. Mempertahankan iman, mengendalikan emosi ketika mengurus rumah tangga dan anak-anak, dan segala rutinitas lain yang tampaknya tidak bergerak kemana-mana. Ibadah pun belum pernah bisa sampai di tahap sempurna, khusyu yang tuma'ninah.

Perasaan-perasaan seperti ini sebenarnya melemahkan semangat. Apalagi jika lingkungan kita begitu biasa seperti manusia biasa. Tidak dilingkungan pesantren atau para alim ulama yang begitu terjaga.

Memang benar, jika dibandingkan dengan ulama yang baru saja berpulang dan juga keluarganya itu, jauh sekali posisiku. Tapi aku yakin Alloh SWT mengerti kadar hamba-Nya masing-masing. Dan sangat memperhatikan kesungguhan niat dan proses yang dijalani manusia yang berencana.

Dari sebuah tweet mbak Asma Nadia, penulis bestseller. Beliau mengatakan, tidak ada salahnya kita bersungguh-sungguh mengejar dunia. Asal hal itu tidak menurunkan prioritas kita untuk mengejar akhirat.

Berita meninggal mendadak suami, tentu membuat seorang perempuan jadi ikut cemas. Sebagaimanapun kuat pemahaman bahwa mati adalah urusan Alloh SWT. Bahwa ada anak-anak dan diri sendiri yang harus diteruskan kehidupannya, adalah jadi beban pikiran juga.

Jika seorang perempuan tidak memulai untuk membuka jalan rejeki bagi dirinya sendiri, tentu akan sangat kesulitan jika hal ini menimpanya. Ditinggal oleh sang Kepala Keluarga.

Sebagai istri, sebagai ibu, tentu akan lebih ringan jika kita mempersiapkan diri untuk mandiri menghadapi apapun yang terjadi kelak. Semoga kita semua dimudahkan untuk hal tersebut, diberikan kehidupan yang baik barakah dan dipanggil dalam keadaan khusnul khotimah [kematian yang baik] amin.

Perempuan. Kita harus kuat.

Loveyu,
Heni Prasetyorini