Sebel nggak sih?
Jika...
Beberapa kali kumpul ibu-ibu, ada yang suka melototin kita dari ujung kepala sampai ujung kaki. Lalu dia mendekat pada kita, dan berbisik,

                      "nggak pantes banget sih jilbabnya"
"wajahnya nggak dirawat ya? kusem banget"
"pakai nih krim saya. jadinya alus dan mengkilat. nggak perlu pake bedak Jeng"
"aduh gede banget sih bempernya. Nggak pernah ngaca ya?"
"itu roknya beli dimana? pas banget ya sama gedenya badan"

Saya nih, yang dari muda nggak peduli-peduli amat sama penampilan, kok ya lama-lama sebel juga mendengar hal itu ya?

Jaman saya masih merantau dan sekolah jauh dari rumah itu, saya nggak menyediakan waktu buat mikiran fashion sama sekali. Kecuali  malah berusaha tampak gagah, macho, berani dan kuat. Tujuannya sih agar saya nggak diganggu siapapun jika di stasiun, di kereta api berjam-jam atau harus pulang jalan kaki dari kampus ke tempat kos di tengah malam.

credit
Celana jins longgar, kaos, jaket kampus, jilbab kaos, sepatu kets atau sandal. Sudah itulah senjata andalan. Make up paling banter bedak dan pelembab. Yang penting cuma, aku nggak bau badan dan bau mulut gitu aja deh, aman.

Nah, jaman itu jadi tomboi masih aman-aman saja. Atau lingkunganku mendukung juga ya?
Sekarang mulai membuka diri bergaul dengan ibu-ibu sekitar rumah, sekolahan dan sekitarnya kenapa malah saya jadi makin terintimidasi ya rasanya?

Makin terancam oleh ulah Fashion.
Jadi salting jika kumpul-kumpul. Takut dibilang nggak matching. Takut kelihatan gendut. "aduh jilbabku berlebihan gak ya? atau aduh salah kostum nih." 

Perasaan yang muncul ini bikin saya sebel juga pada diri sendiri.
"Kemana jiwaku yang merdeka dalam balutan celana jins belelku itu?'
begitulah kira-kira teriakan dalam hatiku.

Tetapi jika saya bertahan cuek beibeh juga kasihan sama suami saya. Mosok istrinya acakadut gitu sih? kayak nggak dikasih nafkah aja, kayak nggak diurus.

Akhirnya saya mulai menerima kenyataan bahwa berdandan adalah kebutuhan perempuan. Saya mulai merawat diri. Memperhatikan baju dan kebutuhan pakaian lainnya. Iya, saya juga merasakan ada energi positif juga pada self esteem dan self confidence saya dalam bergaul atau tampil keluar.
Tapi rasa terintimidasi itu belum hilang juga.

sebagai kebalikannya adalah seperti ini,
saya punya kenalan beberapa dosen perempuan. Bidang Kimia dan Matematika. Mbak-mbak ini [begitu saya memanggilanya, pakai mbak bukan ibu], konsisten banget dalam berpakaian. Kalau dari modelnya ya juadul banget. Bahkan jarang ganti baju. Artinya sering ketemu pakai baju yang sama. Tetapi kepintaran mereka luar biasa. Apalagi kebaikan hati mereka, sudah pantas jadi penghuni surga deh pokoknya. Mereka mending spend money buat mahasiswanya yang butuh uang penelitian daripada beli baju, gitu deh kasarannya.

I adore them so much. Saya sangat memuja mereka. Dan saya yakin di lingkungan kampus, mereka tidak akan menerima bentuk intimidasi fashion seperti yang saya alami di dunia ibu rumah tangga. Mereka dihargai di lingkungan yang mendukungnya itu. 

Memang sih, tidak semua ibu rumah tangga begitu. Hanya terkotak pada lomba update fashion semata. Unluckily lingkungan dekat saya begitu. Menghargai orang dari bajunya, tas-nya, sandalnya dan apalagi mobil dan rumahnya. 

Walau begitu saya juga pernah mengendalikan sebuah bisnis fashion kecil-kecilan : Jilbab Orin. Sebuah keajaiban atau campur tangan Alloh SWT juga kali ya, untuk membuat  saya nggak tomboi terus seumur hidup. Sedikit care sama kecantikan gitulah. Dan memang berhasil juga, saya sedikit ngeh tentang fashion.

Namun terus terang, jujur. Saya tersiksa sekali berbisnis di bidang fashion. Rasanya saya telat terus. Kuper terus. jadul terus. Dan ketinggalan jaman terus mengikuti putaran dunia fashion yang cepatnya minta ampun itu. Dan saya paling nggak nyaman kudu berdandan sesuai trend masa kini. jadinya saya nggak bisa jadi manekin berjalan untuk bisnis fashion saya itu. lama-lama saya menyerah deh. Fashion is not my passion. 

Sebenarnya ibu saya, keluarga saya, bahkan bapak saya itu suka berdandan. Suka tampil rapi, modis dan trendi. Cuma saya aja yang nggak. Dari kecil lebih tenggelam di buku-buku. 

Akhirnya saya mau ambil jalan tengah saja deh dari per-fashionan ini. Saya tetap akan meningkatkan diri untuk tampil lebih rapi dan pantas. Namun dengan gaya yang sederhana dan pilihan baju yang abadi sepanjang masa. 

karena saya nggak mau repot update fashion. Saya mau lebih meluangkan waktu untuk hal lain. Saya nggak sanggup tampil lebih cantik lebih cantik versi banyak orang.

Hhhh maaf ya ibu-ibu di lingkungan rumah saya. Saya terpaksa menjauh untuk menjaga energi positif diri saya sendiri. :DD

do you ever feel the same, woman ?