Education is a weapon to change the world (Nelson Mandela).

heni prasetyorini

Tetap sekolah atau homeschooling? Apakah ini sudah saatnya memilih yang lebih baik dan terbaik untuk pendidikan anak-anak saya? Bagaimana sebaiknya? Saya mencoba menelusuri kegelisahan saya ini. Jika anda mengalami hal yang sama, marilah kita berbagi cerita.

Saya adalah saksi nyata betapa pendidikan bisa mengubah kehidupan. Keluarga kami dulu dalam kondisi ekonomi, sosial dan pendidikan yang di bawah rata-rata. Ibu tidak sempat ikut ujian kelulusan SD, bapak hanya mengenal calistung di Sekolah Angka Loro (2 SD). Yang mengagumkan adalah, ibu dan bapak kami mempunyai komitmen yang sama yaitu memperjuangkan pendidikan anak-anaknya. Ibarat kata, makan seadanya, baju ala kadarnya,  asal bisa sekolah.

Dan alhamdulillah berkat kerjasama keluarga, pendidikan dari sekolah bisa meningkatkan kehidupan kami baik secara ekonomi, sosial maupun intelektual. Dalam keluarga kami yang terdiri dari 9 anak, sudah ada yang sampai menjadi professor, doktor, master, sarjana dan diploma. Sebuah pencapaian di luar batas imajinasi rakyat jelata biasa, dikarenakan pendidikan yang baik.

Sekolah, dalam hal ini sekolah formal, adalah institusi penting bagi keluarga kami. Tidak ada opsi lain mendapatkan pendidikan kecuali dari sana. Namun dalam perkembangan jaman, pandangan ini ternyata berubah. Di jaman kreatif ini, belajar atau mendapatkan pendidikan tidak lagi hanya bersandar pada sekolah formal. Belajar tidak hanya dicapai dengan berangkat pagi ke sekolah. Bahkan di rumah saja pun bisa. Seperti halnya konsep belajar di rumah atau di tempat non formal lainnya. Konsep ini dikenal dengan beberapa istilah: home based education, homeschooling, flexi school, mobile school, traveling school dan penamaan lainnya yang mengikuti cara para praktisi pendidikan di luar sekolah.

Saya sudah lama mengenal konsep homeschooling (HS) dan berinteraksi dengan beberapa ibu yang mempraktekkannya di rumah. Sungguh menarik konsep yang diusung, antara lain:
1. Belajar adalah hak anak, bukan sekedar kewajiban.
2. Setiap anak unik, tidak bisa belajar dengan cara yang harus sama dan kecepatan belajar yang sama.
3. Pentingnya kemerdekaan belajar.
4. Belajar dengan alam.
5. Mengarahkan anak sesuai minat, bakat, passion dan kompetensinya.

Walau sudah tertarik dengan konsep HS ini, saya masih mengirimkan anak-anak saya ke sekolah formal. Bukan karena tidak percaya kebaikan HS, melainkan belum punya nyali. Saya tidak punya nyali sebagai guru tunggal untuk anak-anak saya. Saya cemas tidak akan bisa konsisten atau istiqomah mengajari anak-anak belajar seperti di sekolah formal. Terlebih pelajaran agama islam. Saya yang berlatar belakang belajar di sekolah negeri sejak kecil sampai besar, sedikit sekali berkesempatan belajar ilmu agama. Mengirimkan anak ke sekolah swasta berbasis islam, adalah pilihan terbaik saya dan suami.

Kami mencoba bertahan dengan segala kekurangan dan ketidakcocokan yang terjadi di sekolah. Dan sebisa mungkin meng-cover-nya di rumah. Dengan tetap berpandangan seperti ini:
1. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Sebagus apapun sekolah, pasti ada kekurangannya.
2. Guru juga manusia, wajar jika ada yang salah.
3. Namanya sekolah ya begitu. Tertekan, di-bully teman, capek, bosan. Itulah fakta hidup. Nanti jika sudah bekerja ya begitu ritmenya sama. Capek, bosan, tertekan.


Akan tetapi semakin hari pandangan saya itu seperti bertanya pada diri saya sendiri. Benarkah begitu? Benarkah ketika kerja nanti kita bakal capek, bosan, tertekan? jadi harus dibiasakan sejak kecil. Sejak di jaman sekolah untuk bisa mengatasi dan bertahan pada keadaan capek, bosan, tertekan di sekolah?

Bisakah kita kelak bekerja dengan senang, bersemangat walau sedang capek dan menghadapi deadline? . Bisakah kita belajar dengan gembira, penuh rasa ingin tahu, ringan, terus menarik, terus menimbulkan rasa penasaran dan kemudian EUREKA!!! berteriak girang karena menemukan jawabannya dari belajar?

Bisakah saya mengubah pandangan ini demi anak-anak saya, supaya bisa hidup lebih baik, bahagia dan bermakna?

Ketika sekolah punya ritme : belajar di sekolah - pulang bebas main game - libur bebas menganggur.
Ketika bekerja punya ritme : bekerja di kantor - pulang nonton TV - liburan tidur sepuasnya.
apakah kedua ritme hidup seperti diatas, adalah yang terbaik?

Bagaimana jika dibalik?
Belajar dan bekerja sesuai minat dan bakat. Sehingga sepanjang hari seperti melakukan hobi?
Tidak ada hari libur, kurang tidur itu semuanya masih terasa menghibur.

Pertanyaan semakin banyak yang bermunculan, "benarkah yang kulakukan ini?".
Apakah mengirimkan (memaksa) anak ke sekolah itu terbaik buat mereka?. Apakah beberapa kali mereka menangis minta sekolah di rumah saja itu berasal dari sanubari anak saya yang paling dalam? Bukan hanya karena kecewa dengan teman atau gurunya? Apakah selama ini anak-anak saya merasa dan memendam rasa tertekan di sekolahnya? Sehingga ketika bangun pagi di hari biasa begitu susahnya. Tetapi ketika bangun pagi di hari libur begitu cepat dan cerianya?. Apakah mereka sebenarnya kewalahan? sehingga setiap akan berangkat sekolah dan dijemput pulang sekolah, selalu berkata, "aku capek,ma."

Saya banyak merenung belakangan ini. Ada rasa cemas bahwa sistim belajar di sekolah anak saya sekarang malah kontraproduktif. Tanpa terasa memadamkan potensi dan passion mereka. Karena harus berjuang susah payah memenuhi nilai KKM hasil ujian sekolah. Walau saya berusaha menerapkan ke anak, " yang penting kamu suka belajar, ingin tahu, mencari tahu dan berbagi tahu. Tidak penting nilai berapa". Namun tuntutan sekolah dan respon guru terhadap nilai ujian anak saya, cukup menambah pikiran juga.

Apakah anda mengalami hal yang sama? Ataukah saya pribadi yang bergulat dengan pikiran ini sendiri? Ah entahlah. Saya sedang tidak bertujuan membandingkan Sekolah vs Homeschool secara umum. Lalu menganggap buruk salah satunya. Saya percaya Sekolah itu penting. Namun mungkin, dengan karakter anak-anak saya, dan bakatnya yang mulai terlihat, mereka kurang pas jika harus belajar secara klasikal dan seragam di sekolah formal.

Untuk mendapatkan jawaban dari kegelisahan ini, saya memilih untuk lebih aktif melakukan riset. Saya pun membuat status di facebook tentang hal tersebut, karena bertanya di sosial media masih menjadi cara paling efektif untuk mencari link networking. Dan itu benar.


 Alhamdulillah respon cepat dari teman-teman saya di facebook. Beberapa teman menge-tag nama temannya yang mempraktekkan HS. Dalam hitungan jam, saya bisa berkomunikasi dengan mereka, praktisi HS di Surabaya. Saya bertanya dan meminta dimasukkan dalam grup di whastapp. Saya ingin berkumpul, bertemu, bicara dan melihat keseharian mereka. Saya ingin mengumpulkan data sebanyak mungkin dengan melibatkan anak dan suami juga. Untuk kemudian memutuskan mana yang terbaik untuk pendidikan anak-anak saya. Bagaimana dengan anda?