If the relationship of father to son could really be reduced to biology, the whole earth would blaze with the glory of fathers and sons. 

        Bicara tentang parenting biasanya tertuju pada peran ibu pada anak-anaknya. Quote yang sering terucap di mana-mana berbunyi, "Ibu adalah madrasah utama dan pertama anak-anaknya". Seharusnya tidak berhenti pada kalimat itu. Ada tambahan kalimat yang penting yaitu, "Ayah adalah Kepala Madrasahnya".

       Jika rumah tangga ibarat sekolah. Maka, Laki-laki, yang sudah menikah dan dikaruniai keturunan, peran utamanya tak hanya menjadi Kepala Keluarga, melainkan juga Kepala Sekolah. Sebagaimana tugas dan peran Kepala Sekolah di lembaga pendidikan, begitulah kisaran tugas dan peran ayah di ranah pendidikan anak-anak, istri dan keluarganya.

Jadi, ayah, bapak, abah, abi, abu, tugas anda tidak main-main ternyata, jangan bernafas lega hanya ketika sudah merasa bebas telah lulus sekolah, kuliah lalu menikah.

"Memberi nafkah saja sudah menyita pikiran dan tenaga!"
Jika itu dalih yang diambil, mohon maaf, tidak bisa. Kembali pada konsep awal, "Ayah adalah Kepala Madrasahnya", maka mau tidak mau tugas ini harus dilakukan dan diterima dengan lapang dada. Berat juga ya? :)

Takkan berat jika ayah tahu caranya. Akan semakin ringan jika melakukannya dengan bahu membahu, saling membantu dengan istri dan anak di rumah. Toh, itulah sesungguhnya keluarga.

Peran ayah begitu penting, apalagi terhadap anak lelakinya. Mengapa? Tentu saja, karena kelak anak lelakinya itu juga akan menikah, menjadi suami dan juga menjadi ayah. Sama seperti dirinya.

 Menurut Maureen Hitam, Ph.D (Univ. Of Marylanf School of Medicine), kedekatan ayah dengan anak lelakinya bahkan sejak bayi, bisa mengurangi munculnya masalah perilaku atau kenakalan. Dan yang tak kalah pentingnya, membuat anak mampu membedakan gender dengan baik. Anak lelaki jadi yakin dengan gendernya sebagai lelaki. Bahwa dia berbeda gender dengan ibunya, yang perempuan. Isu LGBT takkan muncul jika ayah akrab dengan anak-anaknya.

Tak bisa dipungkiri, bahwa ayah cenderung kurang akrab dengan anaknya, sedikit banyak dipengaruhi oleh budaya kita. Biasanya ayah ditempatkan di posisi teratas, harus disegani, dihormati dan dipatuhi tanpa boleh banyak kata dan sedikit interaksi, seperti yang terjadi di kalangan Kesultanan atau Kerajaan.  Akibatnya, generasi berikutnya menjadi ayah yang gagap atau kaku untuk "gaul" dengan anaknya sendiri.

Berbeda dengan dunia barat yang lebih santai, hubungan ayah dan anak lebih seperti teman saja tampaknya. Konsep ini bagus juga untuk diabsorbsi. Ayah dan anak adalah sahabat karib, indah nian kedengarannya. Lalu bagaimana cara agar bisa membina hubungan berkualitas antara ayah dan anak, sampai bisa jadi layaknya sahabat?

1. Selalu Ada Untuk Anak
Bukan berarti ayah harus memilih tidak bekerja demi bersama anak di rumah seharian. Melainkan ayah hadir sepenuh hati, ketika anak membutuhkannya. Misalnya, ketika anak datang, membawa kertas hasil ujian sekolah, ayah meletakkan gadgetnya, mengajak anak duduk di sampingnya, melihat hasil ujian anak, menepuk pundaknya lalu berkata,"Usahamu bagus nak. Ada yang sulit? Apa yang bisa ayah bantu?". Berapapun hasil ujian anak, hargailah dan tawarkan kehadiran sebagai ayah untuk membantunya. Sekecil apapun peristiwa dalam kehidupan anak, usahakan ayah hadir di situ. Dan anak merasakan kehadiran ayahnya.

2. Mendampingi Anak
Anak lelaki mempunyai sifat kompetisi yang lebih besar daripada perempuan, walau tidak mereka tampakkan. Mereka cenderung ingin menang, baik secara akademis, olahraga, sosial bahkan sekedar lomba 17 Agustusan di kampung. Hadirnya ayah di momen penting itu, mendampingi anak ketika berlomba "Balap Karung", saja, akan menjadi momen berharga untuk anak lelaki. Dia bisa menunjukkan kehebatannya, kemampuannya dan usaha maksimalnya itu dan berkata dalam hatinya, "Lihat, aku bisa sehebat ayah, sekuat ayah.".

3. Melakukan Kegiatan Bersama
Sewaktu kecil, saya mempunyai kenangan yang manis bersama bapak (begitu saya menyebut ayah). Di hari Minggu pagi, bapak punya ritual semir sepatu bersama. Semua sepatu dikumpulkan, dan masing-masing anak lelaki dan perempuannya menyemir sepatu. Kami berlomba menyemir sekilap mungkin dengan berbagai cara. Saya tahu trik memanaskan krim semir sepatu menggunakan lilin atau dijemur sinar matahari, supaya menjadi semir cair dan membuat sepatu lebih mengkilap. Saya pun piawai menggosok sepatu sekuatnya supaya kilap hitamnya tahan lama. Kegiatan bersama ini begitu mengena. Begitu juga jika ayah dan anak lelaki, melakukan kegiatan bersama, apapun bentuknya. Kedekatan emosional akan terjalin, komunikasi akan terbuka dan mereka bisa menjadi sahabat sampai kelak dewasa.

4. Melibatkan Kontak Fisik
Mudah mengungkapkan rasa sayang, seperti memeluk, menggoda, mencium untuk anak lelaki yang masih kecil atau balita. Beranjak besar, biasanya anak lelaki mulai membatasi diri dan enggan "disentuh". Namun percayalah, sesungguhnya mereka masih butuh dan ingin sekali disentuh, dipeluk oleh orang tuanya. Sentuhan bisa melonggarkan kecemasan dan ketegangan yang biasanya hanya dipendam di hati anak lelaki. Terlebih jika anak lelaki kita pendiam. Jika dari gestur tubuhnya tampak dia sedih, galau namun ketika ditanya, hanya dijawab, "nggak ada apa-apa". Ayah, maka mendekatlah pada anak lelakimu itu. Tanpa banyak bicara, peluklah dia. Tanpa bicara. Hal ini akan menanamkan kesan pada anak, bahwa ayah akan selalu menjaga dan melindunginya. Betapapun susahnya dunia, anak bisa mengandalkan ayahnya dan dia percaya hal itu.

5. Lebih Mencintai Ibunya Anak-Anak
Ada suatu keadaan dimana sang ayah berkarakter introvert. Yang artinya mau diubah sebagaimanapun, tetap saja dia sulit mengekspresikan rasa sayang kepada anaknya, terutama anak lelakinya. Namun satu hal yang bisa dilakukan untuk menunjukkan bentuk rasa sayang adalah, memberi perhatian kepada ibunya anak-anak. Dengan cara ini, walau tak banyak gerak dan kata, anak-anak akan mengamati bagaimana sayang, cinta, tanggung jawab, dedikasi dan komitmen seorang lelaki kepada istrinya. Dan akan mereka refleksikan cinta itu sebagai wujud kasih sayang ayahnya pada diri mereka sendiri. "Ayah sayang dan bertanggung jawab pada ibuku, pasti begitu juga padaku," itu yang akan mereka benamkan dalam hati. Secara otomatis juga, anak lelaki akan menghormati dan menyayangi ayahnya tanpa diminta.
*Ibunya anak-anak disini, pengertiannya dalam arti luas*.


Fatherhood
mereka melihat bapaknya, menyanyikan lagu cinta untuk ibunya :)
The most important thing a father can do for his children is to love their mother.
 Dengan konsep dan cara sederhana ini, mari kita tingkatkan kualitas hubungan antara ayah dan anak lelakinya. Semoga hal ini menjadi salah satu cara memperkuat pilar keluarga.

Semoga menginspirasi :)
- HPR -