“Woman is not a joke, nor are you
Perempuan bukan bahan guyonan, tidak juga kamu.”

Bagi kami - Pegiat Pemberdayaan Pendidikan untuk perempuan, hati kami sangat terluka ketika melihat kalian membagikan foto perempuan tertentu dan menertawakannya.

Apa sih yang ada di pikiranmu?

Kalau yang ada di pikiranku adalah bagaimana perempuan itu bisa lebih pintar sehingga tahu cara berkarya dan bekerja tanpa harus menjual tubuhnya.

Sekali lagi, apa sih yang ada di pikiranmu melakukan itu? menjadikan perempuan sebagai bahan guyonan menghibur hati di grup-grup whatsapp kalian,
padahal istrimu, anakmu, dan bahkan ibumu adalah perempuan.

Apakah perempuan hanyalah guyonan bagimu? ——-

Bagi beberapa orang, mungkin, bahkan sesama perempuan juga, sikap saya ini lebay. Sok sok an. Silahkan saja.
.
Sikap dan prinsip saya ini begitu kuat. Pernah saya hanya masuk satu grup wag alumni kisaran kurang dari 5 menit langsung keluar.
Alasan tak lain dan tak bukan, karena banyak foto perempuan yang dijadikan guyonan di sana.
.
Beberapa teman menganggap saya sombong dan sok. Ada yang sengaja menjapri meminta saya bergabung kembali untuk menjadi “pendakwah” di sana. Tentu langsung saya tolak. Mbelgedes!
Masih banyak cara lain untuk berdakwah. Sampai saat ini saya putus kontak dengan mereka. Yo wis.
.
Pagi ini, mengalami hal sama. Howalah.
Sempat beberapa waktu lalu saya diam saja menghadapi hal-hal semacam itu. Kadang diam-diam left group. Atau bertahan. Atas nama silaturahmi.
.
Tapi lama-lama saya mikir-mikir sendiri.
Atas nama silaturahmi?
Benarkah?
Silaturahmi macam apa?
.
Halah yowislah
Hidup dengan berprinsip, lebih bermartabat untuk saya. Tidak dianggap jadi teman, dll dll, wis sak karepmu. Nek jare wong Suroboyo, “gak duwe konco yo gak popo wis rek. Sepurane ya, aku metu."
.
Peristiwa pagi ini semakin dan semakin menguatkan tekad saya untuk terus ada di Ranah Pegiat Pendidikan untuk Perempuan.
Minimal tak ada lagi adek-adek putri yang harus bekerja secara tidak bener, karena mereka tidak cukup ilmu untuk bekerja dengan benar dan hidup layak.
Sehingga kelak mereka bisa bekerja mandiri dan tidak jadi bahan tertawaan macam ini.
.
Persis dengan prinsip ibu saya,”wong wedok iku nek isok kerjo, karo wong lanang gak bakal digawe sembrono”.
Perempuan itu kalau bisa bekerja tidak akan disepelekan oleh lelaki.
.
Ibu saya benar. Saya yakini itu.
Setelah rentetan tugas dan 🍎academy ini usai, bismillah, saya akan mulai kelas khusus perempuan, Akademi Prasetyorini, di rumah saya sendiri. Mengajarkan tentang Life Skill dan Technology.

Rumah saya di Surabaya Barat. Siapapun kalian yang ingin berpartisipasi, saya terbuka sekali. Jika ada anak perempuan putus sekolah, baik SMP atau SMA, dan bisa datang ke rumah saya, silahkan hubungi saya langsung.

Bismillah. Semoga Gusti Allah maringi kemudahan.

Sungguh saya lelah dan jenuh sekali dengan peristiwa macam pagi ini.